Bos Bursa Mau Lakuin Ini Sebelum Tendang Emiten Bermasalah

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan tengah melakukan pembinaan kepada emiten yang masuk dalam daftar saham berpotensi delisting. Sebelumnya, ada beberapa saham berpotensi delisting yang dimiliki oleh Dana Pensiun (Dapen) BUMN.

Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya melaksanakan pembinaan selama masa suspensi berlangsung. Diketahui, masa suspensi berlangsung selama 24 bulan.

“Jadi tidak kita biarkan saja. Bursa lakukan pemanggilan, hearing, kita panggil direksi hingga pemegang saham pengendalinya ,” ungkap Nyoman saat ditemui wartawan pada Jumat, (10/3/2023).

Selain melakukan pemanggilan kepada pihak emiten, Bursa juga memberi pengumuman kepada para pemegang sahamnya lewat keterbukaan informasi BEI setiap 6 bulan sekali. Pengumuman ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu 2 tahun.

“Kalau sudah dikasih kesempatan 24 bulan, itu akhirnya pelaksanaannya delisting,” kata Nyoman.

Di antara deretan saham emiten yang terancam ditendang atau delisting dari bursa, ada beberapa yang dimiliki oleh beberapa perusahaan dana pensiun (dapen) dan asuransi.

Ini selaras dengan isu dana pensiun dan asuransi yang sedang disorot di Indonesia. Terlebih, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengungkapkan saat ini ada 11 asuransi yang masih bermasalah.

Belum lagi, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut ada 65% dapen BUMN dalam kondisi ‘sakit’. Salah satu masalah yang sudah muncul dan terdeteksi adalah telah terjadinya defisit kecukupan dapen BUMN atau undefined sebesar Rp 9,8 triliun pada tahun 2021.

Adapun saham kepemilikan Dapen dan BUMN yang berpotensi delisting antara lain PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI), dan PT Sugih Energy Tbk. (SUGI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*